(wartaislam.com) Seorang pengusaha bernama Satrio mengidap penyakit. Ia harus dirawat karena penyakit yang gawat. Kanker yang diidap tubuhnya kini sudah mencapai stadium 3 B. "KANKER GETAH BENING", kata dokter! Maka hari-hari pun kini berubah kelam baginya.
Tubuh menjadi lemas. Rutinitas lepas. Semua berubah dari yang terang menjadi gelap terasa. Satrio meratapi nasibnya di atas ranjang pesakitan. Kerap ia menangis sedih mengapa ia bisa seperti ini. Apalagi saat terbayang jika ia mati, sering ia menangis sendiri membayangkan segala yang ia cintai dari dunia ini. Semuanya akan pergi dan meninggalkan dirinya. Kondisi meratap seperti ini rupanya membuat stamina tubuhnya semakin anjlok dan membuat kanker bertambah ganas.
Ditambah karena melihat tubuh Satrio yang kurus lemas terkulai, setiap orang dari sahabat, kerabat dan keluarga yang datang berkunjung turut bersedih. Mereka tak jarang menangis melihat penderitaan yang Satrio alami. Rupanya Satrio telah sukses membagi penderitaannya dengan orang lain.
Hingga berbagai cara pengobatan sudah ditempuh namun tak kunjung sembuh. Hari-hari semakin terasa lama berada di rumah sakit. Asa semakin pupus dan jauh dari harapan. Maka Satrio terilhami bahwa ia tak lagi boleh cengeng. Ia harus siap menerima keadaan. Ia harus ridha atas ketentuan yang Allah Swt berikan.
Maka ia pun bangkit! Ia tumbuhkan semangat. Dalam benaknya ia harus rela dengan ujian Allah Swt, seperti ia senang saat diberi kenikmatan oleh-Nya. "Setidaknya sakit ini adalah penebus dosa" gumamnya.
Mulai hari itu ia ingin menjadi manusia yang ceria. Menebar senyum dan tak pernah menyerah. Setiap ada orang yang datang menjenguk, ia berpura-pura bahwa dirinya sudah sehat. Tiada mimik sedih dari wajah Satrio dan tidak sedikitpun ia meratap.
Meski masih di atas pembaringan ia selalu bergurau, bercanda dan tertawa. Ia mencoba menghibur setiap orang yang mengunjunginya. Keluarga dan seluruh sahabat yang menjenguk tahu dari dokter dan perawat bahwa kondisi Satrio masih tetap gawat, namun mendapati Satrio bersikap ceria seperti itu mereka pun berpura-pura menimpali tawa-canda Satrio.
Benar saja, rupanya banyak penyakit yang muncul dari tubuh kita karena persepsi otak kita yang membuatnya. Saat sering meratap dan menyesal, kondisi tubuh Satrio bertambah buruk. Namun saat ia rela dan bahagia atas musibah penyakit yang menimpanya, maka ia pun dengan cepat kembali sembuh.
Tidak disangka, hanya dalam tempo kurang dari 3 bulan penyakit kanker getah bening itu telah sirna dari tubuhnya. Banyak kerabat dan keluarga yang tak percaya atas apa yang terjadi pada diri Satrio. Maka di antara mereka ada yang bertanya kepada Satrio bagaimana cara ia mendapati kesembuhan.
Menanggapinya Satrio bergumam, "Kalau kita mengubah tangisan menjadi senyuman, pasti yang kelam pun menjadi terang!"
Satrio tersenyum, dan senyumannya menjadi kesembuhan. Never give up, my friends! Tersenyumlah maka senyummu menjadi sebuah keberuntungan!
sumber : kaunee
0 komentar:
Poskan Komentar